Eksplorasi Liking Gap dalam Context Persepsi Teman Sebaya dan Dampaknya pada Konsep Diri Remaja

 Abstrak 

Fenomena liking gap merupakan bias psikologis di mana individu meremehkan sejauh mana mereka disukai oleh orang lain dalam interaksi sosial. Pada remaja, fenomena ini sangat krusial karena terjadi bersamaan dengan fase pembentukan identitas diri dan pencarian penerimaan sosial dari teman sebaya. Remaja yang mengalami liking gap cenderung memiliki persepsi negatif terhadap penerimaan sosial, yang kemudian berdampak pada harga diri dan struktur konsep diri mereka. Artikel ini membahas bagaimana persepsi remaja terhadap sikap teman sebaya memediasi hubungan antara liking gap dan konsep diri, serta menelaah dampak psikologis dan sosial yang timbul akibat distorsi persepsi tersebut. Kajian ini menunjukkan bahwa persepsi interpersonal yang bias berkontribusi terhadap pembentukan identitas sosial yang sempit, rendahnya self-esteem, serta berkurangnya keterlibatan sosial. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya peran guru dan konselor dalam membantu remaja membentuk persepsi sosial yang sehat melalui program intervensi reflektif, bimbingan kelompok, dan penguatan komunikasi interpersonal. Dengan pendekatan yang bersifat suportif dan kolaboratif, guru dan konselor dapat mempersempit kesenjangan antara persepsi dan realitas sosial, sehingga membantu remaja mengembangkan konsep diri yang positif dan realistis. Penulisan ini didasarkan pada kajian literatur dan studi terdahulu yang relevan, dengan penekanan pada konteks perkembangan psikososial remaja di Indonesia. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan strategi intervensi pendidikan dan konseling berbasis pemahaman terhadap dinamika persepsi sosial remaja.


Kata kunci: liking gap, persepsi teman sebaya, konsep diri, harga diri, konseling remaja.




Abstract 

The liking gap phenomenon is a psychological bias in which individuals underestimate the extent to which they are liked by others in social interactions. In adolescents, this phenomenon is crucial because it occurs simultaneously with the phase of self-identity formation and the search for social acceptance from peers. Adolescents who experience a *liking gap* tend to have negative perceptions of social acceptance, which then impacts their self-esteem and self-concept structure. This article discusses how adolescents' perceptions of peer attitudes mediate the relationship between the *liking gap* and self-concept, and examines the psychological and social impacts that arise from the distortion of these perceptions. This study shows that biased interpersonal perceptions contribute to the formation of narrow social identities, low self-esteem, and reduced social involvement. This study also highlights the importance of the role of teachers and counselors in helping adolescents form healthy social perceptions through reflective intervention programs, group guidance, and strengthening interpersonal communication. With a supportive and collaborative approach, teachers and counselors can narrow the gap between perception and social reality, thereby helping adolescents develop a positive and realistic self-concept. This writing is based on a review of relevant literature and previous studies, with an emphasis on the context of adolescent psychosocial development in Indonesia. These findings are expected to be the basis for developing educational and counseling intervention strategies based on an understanding of the dynamics of adolescent social perception.


Keywords: liking gap, peer perception, self-concept, self-esteem, adolescent counseling.








PENDAHULUAN 

Di masa remaja, interaksi dengan teman sebaya memainkan peranan krusial dalam membentuk persepsi diri dan harga diri. Remaja pada rentang usia 15–18 tahun mengalami pencarian identitas yang intens, di mana validasi dari teman sebaya menjadi tolok ukur penting penerimaan sosial. Namun, tidak jarang mereka mengalami fenomena psikologis yang dikenal sebagai liking gap yakni kecenderungan untuk meremehkan sejauh mana orang lain menyukai diri mereka, padahal kenyataannya berbeda. Sebagai contoh, meski seorang remaja merasa tidak disukai, teman-temannya mungkin terbukti menunjukkan rasa simpati dan dukungan, tetapi karena hiper-kritik terhadap diri sendiri, remaja tersebut gagal menginterpretasikan isyarat sosial ini secara objektif. Ketidakmampuan dalam membaca respons positif teman sebaya dapat memicu distorsi persepsi interpersonal. Laporan penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa liking gap bisa muncul sejak usia dini (≥ 5 tahun) dan terus terbawa hingga dewasa . Saat remaja merasa tidak disukai, mereka rentan mengalami penurunan harga diri dan meningkatnya perasaan kesepian. Hal ini diperparah oleh kenaikan tekanan sosial dan pemicu seperti bullying, keterbatasan dukungan emosional, serta konformitas terhadap norma kelompok (Wolf A.; Tomasello, M., 2021). i


Teman sebaya tidak hanya berfungsi sebagai kelompok identifikasi, tetapi juga sebagai agen umpan balik sosial. Mereka menjadi rujukan penting dalam membentuk self-concept, semakin kuat hubungannya, semakin signifikan dampak terhadap persepsi diri. Namun, ketika persepsi itu bias karena remaja menganggap tindakan mereka tidak cukup menarik atau layak reflected appraisal dari teman sebaya gagal terbaca dan kemampuan kognitif mereka untuk menafsirkan dukungan menjadi terganggu. Dampak jangka panjangnya tak bisa dianggap remeh (Fauzan N.; Khairunnisa, A., 2022). Remaja dengan persepsi interpersonal negatif cenderung berkembang dengan self-concept yang tidak sehat terutama rendahnya rasa percaya diri dan identitas diri yang rapuh. Perasaan tidak didukung oleh teman sebayanya dapat menyebabkan isolasi sosial, penarikan diri dalam interaksi, sekaligus meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi. Tanpa intervensi, pola ini bisa mengukuhkan pandangan negatif tentang diri sendiri dan menghambat perkembangan sosial mereka.


Pada masa remaja, interaksi dengan teman sebaya bukan cuma soal teman bermain, melainkan arena pembentukan identitas sosial dan pribadi. Periode ini ditandai dengan peningkatan intensitas hubungan remaja menghabiskan waktu dua kali lebih banyak bersama teman dibanding orang tua dan mulai menginternalisasi norma, nilai, serta peran dalam kelompok sosial yang mereka masuki . Erikson menyebut ini sebagai tahap identity versus role confusion, di mana remaja aktif mencari jati diri melalui eksplorasi peran dan keyakinan, serta mencari komitmen untuk membentuk self-concept yang kohesif.


Hubungan sebaya yang berkualitas yang mencakup keamanan, kedekatan emosional, dukungan, dan kemampuan menyelesaikan konflik persis seperti sebuah laboratorium sosial yang membantu remaja belajar memahami emosi, menegosiasikan perbedaan, dan mengasah keterampilan interpersonal. Penelitian menunjukkan bahwa remaja dengan kualitas pertemanan tinggi cenderung memiliki harga diri yang lebih baik, ketahanan psikologis yang kuat, serta daya adaptasi terhadap tekanan sosial . Sebaliknya, isolasi atau penolakan dari teman sebaya dapat mendorong penurunan self-esteem dan identitas diri yang rapuh. Konsep self-concept sendiri terbentuk melalui interaksi kompleks antara refleksi internal dan umpan balik eksternal. Masyarakat menginternalisasi persepsi yang mereka yakini dimiliki orang lain terhadap diri mereka proses ini dikenal sebagai reflected appraisal atau model “looking-glass self”. Pada remaja, karena self-concept masih fleksibel, reflected appraisal menjadi sangat efektif bahkan bisa membentuk langsung persepsi diri mereka, baik dalam dimensi sifat, kemampuan, maupun moralitas. Peer review yang konsisten positif dapat memupuk konsep diri positif, sementara umpan balik yang negatif atau salah tafsir bisa menimbulkan distorsi yang berpotensi merugikan. Fenomena liking gap muncul sebagai distorsi persepsi dalam konteks ini. Individu, termasuk remaja, cenderung meremehkan sejauh mana orang lain menyukai atau menghargai mereka . Mereka mungkin mengabaikan sinyal kehangatan atau dukungan emosional dari teman karena terlalu fokus pada kekurangan diri sendiri atau rasa cemas berlebihan (Suryani S., 2021). 


Pentingnya hubungan sosial dalam pembentukan konsep diri remaja serta keberadaan fenomena liking gap sebagai bentuk distorsi persepsi interpersonal, maka menjadi relevan untuk merumuskan permasalahan secara lebih terarah. Fenomena di mana remaja merasa tidak disukai oleh teman-temannya padahal kenyataannya mereka diterima dan dihargai, menunjukkan adanya jurang antara persepsi subjektif dengan realitas sosial objektif yang sedang berlangsung. Fenomena ini belum banyak dibahas secara mendalam dalam konteks sosial budaya Indonesia, padahal memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan konsep diri remaja yang sedang berada dalam fase krusial pencarian identitas. Distorsi ini jika tidak dikenali dan ditangani secara tepat, dapat berkembang menjadi penurunan kepercayaan diri, menarik diri dari lingkungan sosial, bahkan gangguan psikologis yang lebih serius. Oleh karena itu, penting untuk merumuskan pertanyaan kunci dalam artikel ini yang dapat dijadikan fokus pembahasan secara ilmiah (Fauzan N.; Khairunnisa, A., 2022). 


Rumusan masalah yang hendak dijawab dalam artikel ini antara lain: pertama, bagaimana fenomena liking gap muncul dalam interaksi antar remaja, khususnya dalam konteks hubungan dengan teman sebaya? Kedua, bagaimana remaja memaknai persepsi dari teman-temannya terhadap diri mereka, dan apakah persepsi tersebut memediasi antara liking gap dan pembentukan konsep diri? Ketiga, sejauh mana liking gap berkontribusi terhadap struktur dan kualitas konsep diri remaja, baik dalam aspek kognitif maupun emosionalnya? Ketiga rumusan ini akan dianalisis dalam kerangka psikologi perkembangan dan sosial, dengan penekanan pada refleksi interpersonal, teori looking-glass self, dan mekanisme reflected appraisal sebagai landasan berpikir.


Berdasarkan rumusan tersebut, tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengeksplorasi dan memahami lebih dalam dinamika psikologis yang terjadi dalam diri remaja ketika berhadapan dengan persepsi sosial, khususnya yang berkaitan dengan liking gap. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan secara teoritis dan reflektif bagaimana perasaan tidak disukai yang dialami remaja tidak selalu sesuai dengan kenyataan sosial yang ada, serta bagaimana kondisi tersebut berdampak terhadap pembentukan atau bahkan distorsi konsep diri mereka. Selain itu, penulisan ini juga bertujuan untuk menguraikan peran persepsi interpersonal sebagai jembatan antara pengalaman interaksi sosial dan struktur konsep diri yang berkembang di dalamnya. Melalui pembahasan ini, artikel diharapkan dapat menguraikan mekanisme psikologis yang bekerja dalam fenomena tersebut, serta menunjukkan pentingnya membantu remaja dalam membaca dan memahami sinyal sosial secara lebih objektif dan sehat.


Adapun manfaat penulisan artikel ini dapat dilihat dari dua sisi, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Secara teoritis, artikel ini memberikan kontribusi terhadap literatur psikologi sosial dan perkembangan, khususnya dalam konteks integrasi antara fenomena liking gap dan pembentukan konsep diri remaja. Penjelasan mendalam mengenai bagaimana persepsi sosial berperan dalam pembentukan identitas pribadi remaja memberikan wawasan baru yang dapat dikembangkan dalam riset lanjutan. Artikel ini juga memperkaya perspektif ilmiah dengan menghubungkan teori klasik seperti reflected appraisal dengan fenomena kontemporer dalam kehidupan sosial anak muda, serta mengangkat urgensi topik yang masih minim dijangkau oleh kajian akademik di Indonesia.








TINJAUAN PUSTAKA 

Konsep Diri Remaja 

Konsep diri merupakan aspek penting dalam perkembangan psikologis remaja, terutama saat mereka mulai membentuk identitas personal dan sosial. Carl Rogers menjelaskan bahwa konsep diri adalah persepsi individu terhadap dirinya sendiri yang berkembang melalui pengalaman hidup dan interaksi sosial. Konsep diri bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan dinamis dan dipengaruhi oleh cara individu merespons lingkungan. Konsep diri juga mencakup persepsi seseorang tentang dirinya, bagaimana ia dilihat oleh orang lain, serta evaluasi atas hal-hal yang ia alami. Burns menyebutkan bahwa pengalaman sosial dan pribadi memiliki peran penting dalam membentuk konsep diri seseorang. Secara struktural, konsep diri terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, citra diri (self-image), yaitu gambaran individu tentang dirinya saat ini, termasuk persepsi terhadap penampilan dan kemampuan. (Ruaidah, Husna Nurul, & Zulhenzri, 2023)Kedua, diri ideal (ideal self), yaitu gambaran tentang seperti apa individu ingin menjadi, yang terbentuk dari harapan pribadi dan sosial. Ketiga, harga diri (self-esteem), yaitu sejauh mana individu menghargai dirinya, yang ditentukan oleh kesesuaian antara citra diri dan diri ideal.


Faktor pembentuk konsep diri antara lain berasal dari keluarga, media, dan teman sebaya. Keluarga memberikan dasar penerimaan diri melalui pola asuh dan komunikasi. Media membentuk standar sosial yang memengaruhi persepsi diri. Teman sebaya menjadi sumber validasi sosial yang penting pada masa remaja. Dukungan dari teman meningkatkan konsep diri, sedangkan penolakan dapat menurunkannya. Oleh karena itu, distorsi persepsi dalam relasi sosial seperti liking gap berpotensi besar membentuk konsep diri yang negatif jika tidak dikenali dan diatasi sejak dini.(Buntaran & Helmi, 2015)


Persepsi Interpersonal dan Teman Sebaya

Persepsi interpersonal memainkan peran penting dalam proses sosial, khususnya dalam interaksi yang berlangsung antara individu. Menurut teori penetrasi sosial dari Altman dan Taylor (1973), hubungan interpersonal berkembang melalui proses pengungkapan diri secara bertahap, dari yang bersifat dangkal hingga ke tingkat kedalaman emosional yang lebih intim. Dalam konteks ini, persepsi interpersonal bukan hanya bagaimana seseorang memahami orang lain, tetapi juga bagaimana individu menyadari bahwa dirinya sedang dipahami dan dinilai oleh orang lain. Interaksi ini berpengaruh langsung terhadap kedekatan emosional, penerimaan sosial, dan pada akhirnya membentuk gambaran diri seseorang. Ketika persepsi interpersonal bersifat positif misalnya, seseorang merasa diterima dan dipahami akan memperkuat kelekatan sosial dan mendukung perkembangan konsep diri yang sehat.(Burns, 1993)


Teman sebaya memiliki peran sentral dalam proses pembentukan harga diri dan identitas sosial, terutama pada masa remaja. Di tahap ini, individu mulai mencari pengakuan dan penerimaan dari luar keluarga, menjadikan kelompok sebaya sebagai cermin sosial utama. Dukungan emosional, penerimaan, atau bahkan penolakan yang mereka terima dari teman sebaya akan sangat memengaruhi penilaian terhadap diri sendiri. Ketika remaja merasa diterima, mereka cenderung memiliki harga diri yang tinggi dan identitas sosial yang stabil. Konsep reflected appraisal menjelaskan bahwa individu membentuk konsep diri berdasarkan bagaimana ia merasa dinilai oleh orang lain. Melalui proses ini, seseorang melakukan refleksi terhadap dirinya melalui “cermin sosial” yang berasal dari tanggapan, bahasa tubuh, atau perlakuan orang lain, terutama dari orang-orang yang dianggap signifikan seperti teman sebaya.


Liking Gap

Liking gap, sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Boothby, Cooney, Sandstrom, dan Clark (2018), merujuk pada kecenderungan seseorang meremehkan sejauh mana orang lain menyukai dan menikmati kehadirannya dalam interaksi sosial. Dalam studi mereka, peserta mulai dari orang yang baru bertemu di laboratorium hingga mahasiswa baru yang tinggal bersama secara konsisten merendah dalam menilai seberapa besar teman interaksi mereka menyukai mereka, meskipun sinyal positif hadir secara nyata. Dari aspek psikologis, kegagalan mengakui penerimaan sosial ini dijelaskan melalui mekanisme seperti perhatian berlebihan pada kekurangan diri sendiri, evaluasi diri negatif, dan cemas sosial, yang mendorong individu fokus pada potensi kesalahan dalam interaksi sehingga mereka melewatkan isyarat penerimaan . Dengan kemampuan metakognisi remaja yang belum matang sempurna, mekanisme ini semakin kuat pada kelompok remaja, di mana tekanan untuk diterima menjadi intens.


Penelitian lanjutan oleh Wolf, Nafe, dan Tomasello (2021) menunjukkan bahwa liking gap muncul sejak usia lima tahun, dan semakin melebar saat usia bertambah, terutama ketika anak mulai peduli terhadap penilaian orang lain. Perluasan gap ini dipercaya berkaitan dengan perkembangan kesadaran sosial dan evaluasi diri yang kompleks. Meskipun sebagian besar studi awal difokuskan pada interaksi awal antara orang yang tidak saling kenal, hasil juga relevan untuk konteks remaja dan mahasiswa. Boothby et al. menemukan fenomena serupa pada mahasiswa baru yang tinggal bersama selama satu tahun—mereka secara konsisten meremehkan seberapa besar teman sekamarnya menyukai mereka, hingga beberapa bulan kemudian gap ini baru mulai mengecil (Wolf A.; Tomasello, M., 2021).


PEMBAHASAN 

Manifestasi Liking Gap dalam Interaksi Remaja 

Liking gap merupakan fenomena psikologis di mana individu cenderung meremehkan seberapa besar mereka disukai oleh orang lain setelah berinteraksi. Konsep ini menggambarkan ketidaksesuaian antara persepsi diri tentang kesan yang diberikan dan penilaian sebenarnya dari lawan interaksi. Pada remaja, liking gap menjadi lebih relevan karena masa ini ditandai dengan peningkatan sensitivitas terhadap penilaian sosial dan kebutuhan kuat untuk diterima oleh kelompok sebaya (Santrock, 2019). Fenomena ini dapat muncul dalam berbagai bentuk interaksi, seperti pertemanan, kerja kelompok, dan komunikasi daring. Selain itu, faktor-faktor seperti kecemasan sosial, pengalaman bullying, dan penggunaan media sosial turut memperbesar kecenderungan ini. Pemahaman mendalam tentang liking gap pada remaja penting untuk membantu mereka membangun hubungan yang lebih sehat dan mengurangi distorsi persepsi sosial.


Selain pertemanan, liking gap juga terwujud dalam konteks kerja kelompok. Ketika bekerja sama, remaja yang merasa kontribusinya tidak dihargai cenderung menganggap dirinya tidak disukai oleh anggota kelompok lain. Padahal, bisa jadi kontribusi mereka diakui dan diapresiasi, hanya saja tidak diungkapkan secara eksplisit. Hal ini menyebabkan remaja menjadi enggan terlibat aktif dalam diskusi atau presentasi karena takut dinilai tidak kompeten. Penelitian oleh Mastro et al. (2021) menegaskan bahwa ketidakpastian dalam persepsi sosial berkontribusi pada rendahnya partisipasi dalam kerja tim. Senada dengan itu, Santoso (2020) menemukan bahwa siswa SMA yang memiliki kepercayaan diri rendah lebih sering menarik diri dari kerja kelompok karena merasa tidak diterima, meskipun secara objektif tidak ada indikasi penolakan dari rekan sekelompok.(Santoso, 2020)


Interaksi daring juga menjadi arena penting di mana liking gap muncul secara signifikan. Di media sosial seperti Instagram dan TikTok, remaja kerap meragukan makna dari like, komentar, atau respons yang mereka terima. Liu et al. (2020) menyatakan bahwa remaja cenderung tidak mempercayai validitas umpan balik positif yang mereka peroleh secara daring. Di Indonesia, fenomena ini diperkuat oleh budaya "silent reader", yakni kecenderungan pengguna media sosial untuk menikmati konten tanpa memberikan like atau komentar. Meskipun konten disukai, pengguna enggan menunjukkan reaksi terbuka, sehingga menciptakan ilusi bahwa konten tersebut tidak dihargai, yang pada akhirnya memperbesar rasa tidak percaya diri remaja terhadap penerimaan sosial mereka secara daring.


Terdapat beberapa faktor psikologis turut memperbesar potensi liking gap pada remaja. Pertama, kecemasan sosial memainkan peran penting. Remaja dengan kecenderungan cemas sosial lebih sering menafsirkan sinyal netral atau ambigu seperti diam atau jeda dalam percakapan sebagai tanda ketidaksukaan. Individu dengan kecemasan sosial cenderung mempersepsi interaksi secara bias dan berfokus pada kemungkinan penolakan. Kedua, pengalaman bullying menjadi pemicu internalisasi negatif yang memperkuat keyakinan bahwa individu tidak layak diterima secara sosial. Korban bullying biasanya mengembangkan citra diri negatif yang bertahan lama, sehingga meskipun mereka berada di lingkungan sosial yang suportif, mereka tetap merasa tidak diterima. Ketiga, pengaruh media sosial semakin memperkuat liking gap melalui dua mekanisme utama, yaitu perbandingan sosial dan ambiguitas umpan balik. Remaja yang sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial mengalami penurunan harga diri, sementara bentuk umpan balik yang ambigu seperti like atau emoji sulit dimaknai secara pasti oleh remaja, sehingga meningkatkan keraguan terhadap penerimaan sosial mereka (Buntaran & Helmi, 2015). 

Persepsi Teman Sebaya dan Relevansi Sosial

Persepsi terhadap teman sebaya memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian sosial dan emosional remaja. Cara remaja menilai sejauh mana mereka disukai atau diterima oleh teman sebayanya berkaitan langsung dengan proses refleksi diri dan pengembangan konsep diri. Dalam interaksi sosial, teman sebaya berperan sebagai cermin sosial yang merefleksikan gambaran tentang diri, sehingga penilaian yang muncul dari kelompok ini sering dijadikan dasar dalam membangun identitas dan harga diri. Ketika remaja merasa bahwa mereka dihargai dan diterima, hal ini cenderung memperkuat konsep diri yang positif. Namun, apabila remaja meyakini bahwa mereka tidak disukai, meskipun persepsi tersebut tidak sepenuhnya akurat, maka yang terbentuk adalah konsep diri yang terdistorsi (Ruaidah et al., 2023). 

Fenomena ini menjadi semakin kompleks ketika persepsi tersebut bersifat bias. Banyak remaja yang cenderung menilai dirinya secara negatif berdasarkan dugaan semata terhadap penilaian orang lain. Misalnya, mereka merasa kurang lucu, kurang menarik, atau tidak cukup kompeten dibandingkan teman-temannya, padahal teman sebaya justru melihat mereka secara positif. Bias persepsi ini menyebabkan jarak antara realitas sosial dan interpretasi pribadi semakin lebar. Ketika bias ini berlangsung terus-menerus, remaja bisa mengalami penurunan harga diri, menarik diri dari lingkungan sosial, atau bahkan kehilangan motivasi untuk membangun relasi yang sehat.

Dalam banyak kasus, persepsi negatif ini muncul bukan karena adanya penolakan nyata, melainkan karena ketidakmampuan remaja dalam menangkap sinyal penerimaan sosial secara tepat. Proses ini dikenal sebagai reflected appraisal, yakni ketika individu membentuk gambaran diri berdasarkan interpretasi terhadap tanggapan sosial yang diterima dari orang lain. Remaja sering kali melebih-lebihkan penilaian buruk dari orang lain atau mengabaikan sinyal penerimaan yang tidak eksplisit. Kesalahan dalam membaca ekspresi wajah, nada bicara, atau sikap netral dari teman dapat disalahartikan sebagai bentuk penolakan. Kondisi ini sangat umum terjadi pada remaja yang memiliki kecenderungan cemas sosial atau pernah mengalami pengalaman sosial yang menyakitkan sebelumnya. Faktor budaya juga berperan dalam membentuk persepsi ini. Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi keharmonisan dan kesopanan seperti di Indonesia, ekspresi ketidaksukaan jarang diungkapkan secara langsung. Hal ini membuat remaja harus menafsirkan tanda-tanda sosial yang bersifat implisit, dan dalam ketidakpastian tersebut, banyak yang memilih untuk mengisi celah dengan asumsi negatif. Akibatnya, meskipun secara objektif mereka diterima dalam kelompoknya, remaja tetap merasa asing atau tidak cukup baik (Muhirshani & Muryono, 2024). 

Implikasi dari persepsi yang bias terhadap teman sebaya sangat luas. Pertama, ia dapat menghambat perkembangan keterampilan sosial karena remaja yang merasa tidak diterima cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Kedua, bias persepsi ini dapat memicu efek self-fulfilling prophecy, yakni ketika keyakinan bahwa dirinya tidak disukai menyebabkan remaja bertindak pasif atau menghindar, yang kemudian membuat orang lain benar-benar menjauh, dan memperkuat keyakinan awal tersebut. Ketiga, secara psikologis, persepsi negatif yang berulang dapat memicu ketidakstabilan konsep diri, menurunkan rasa percaya diri, dan meningkatkan kerentanan terhadap stres, kecemasan, bahkan depresi (Buntaran & Helmi, 2015).

Mengingat dampak besar dari persepsi teman sebaya terhadap pembentukan identitas remaja, sangat penting bagi institusi pendidikan dan keluarga untuk menciptakan ruang yang mendukung interaksi sosial sehat. Sekolah sebagai lingkungan sosial utama remaja dapat mengembangkan program edukasi emosional dan pelatihan empati, agar remaja mampu membaca dan memahami sinyal sosial secara lebih akurat. Pendekatan ini dapat diperkuat dengan dukungan guru BK atau konselor yang membantu remaja membedakan antara asumsi dan realitas sosial. Selain itu, intervensi berbasis kelompok seperti mentoring teman sebaya juga berpotensi mengurangi jarak persepsi dengan memberikan umpan balik langsung dalam lingkungan yang aman dan suportif. Secara keseluruhan, persepsi teman sebaya tidak hanya menjadi bagian dari proses interaksi sosial remaja, tetapi juga menjadi fondasi dari pembentukan identitas dan harga diri. Jika persepsi tersebut bersifat realistis dan positif, ia akan memperkuat rasa percaya diri dan memperkaya kemampuan sosial. Sebaliknya, jika terus dibentuk oleh bias negatif, maka ia akan menjadi akar dari berbagai hambatan psikologis yang membatasi pertumbuhan personal remaja. Oleh karena itu, upaya memperbaiki persepsi interpersonal dan meningkatkan kemampuan refleksi diri yang sehat merupakan kunci dalam membangun generasi muda yang tangguh secara sosial dan emosional.

Dampak Liking Gap terhadap Konsep Diri

Fenomena liking gap, yaitu kecenderungan seseorang untuk meremehkan seberapa besar orang lain menyukai dirinya setelah interaksi sosial, memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri, khususnya pada remaja. Fenomena liking gap, yaitu kecenderungan seseorang untuk meremehkan seberapa besar orang lain menyukai dirinya setelah interaksi sosial, memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri, khususnya pada remaja. Penelitian oleh Boothby et al. (2018) menunjukkan bahwa setelah percakapan, individu secara konsisten menganggap bahwa lawan bicaranya menyukai mereka lebih sedikit daripada kenyataannya. Underestimation ini bukan hanya bias kognitif sesaat, tetapi berdampak sistemik terhadap persepsi diri dan kualitas hubungan sosial yang berkembang (Boothby  G.; Sandstrom, G. M.; Clark, M. S., 2018). 

Salah satu mekanisme utama yang menjelaskan liking gap adalah kecenderungan individu untuk terlalu fokus pada kekurangan dirinya selama percakapan. Remaja, yang tengah berada dalam masa pencarian identitas dan rentan terhadap penilaian sosial, cenderung menilai dirinya secara kritis. Dalam interaksi sosial, mereka lebih memperhatikan apakah mereka terdengar membosankan, terlalu banyak bicara, atau tidak cukup menarik. Di sisi lain, lawan bicara justru cenderung lebih menerima dan mengapresiasi kehadiran mereka. Namun, karena remaja terjebak dalam pemikiran negatif terhadap performa sosial mereka sendiri, sinyal penerimaan dari orang lain sering kali diabaikan. Kondisi ini berkontribusi terhadap rendahnya harga diri (self-esteem) karena asumsi bahwa diri mereka kurang disukai memunculkan keyakinan bahwa mereka tidak layak diterima atau dihargai secara sosial. Hal ini sejalan dengan temuan Wolf et al. (2021) yang menunjukkan bahwa liking gap mulai terbentuk sejak usia lima tahun dan semakin menguat selama masa perkembangan sosial anak hingga remaja. Ketika persepsi ini menetap, remaja dapat menginternalisasi penilaian negatif yang sebenarnya tidak faktual, sehingga terbentuklah konsep diri yang terdistorsi (Wolf  A.; Tomasello, M., 2021). 

Konsep diri yang terbentuk dari bias persepsi ini tidak hanya menyempitkan pandangan remaja terhadap dirinya sendiri, tetapi juga membatasi ruang aktualisasi sosial mereka. Ketika mereka merasa tidak disukai, walaupun realitasnya berbeda, mereka cenderung menghindari interaksi, menutup diri dari pengalaman sosial baru, dan akhirnya memperkuat pola berpikir negatif. Dalam jangka panjang, ini dapat berujung pada gangguan psikologis seperti kecemasan sosial dan depresi. Selain itu, remaja yang mengalami liking gap lebih besar biasanya kurang mampu memanfaatkan positive feedback yang sebenarnya telah mereka terima (Wolf  A.; Tomasello, M., 2021). Terdapat juga sinyal-sinyal sosial yang menunjukkan ketertarikan atau penerimaan sebenarnya hadir dalam interaksi, namun tidak diinterpretasikan secara tepat oleh individu. Ketika umpan balik positif tersebut tidak dikenali, maka remaja kehilangan kesempatan untuk memperkuat persepsi diri yang sehat. Akibatnya, meskipun lingkungan sosial memberikan konfirmasi yang konstruktif, dampaknya tidak terserap dalam pembentukan konsep diri.

Namun demikian, keterlibatan dalam hubungan interpersonal yang positif secara konsisten dapat membantu mengurangi efek negatif liking gap. Dukungan dari teman sebaya, guru, dan keluarga yang memberikan konfirmasi positif secara eksplisit dapat menjadi buffer terhadap penurunan harga diri. Ketika remaja mendapatkan validasi sosial secara nyata, mereka akan lebih terbuka terhadap kemungkinan bahwa mereka memang disukai. Pada titik ini, persepsi diri yang positif dapat berkembang melalui mekanisme reflected appraisal, yaitu proses kognitif di mana seseorang menilai dirinya berdasarkan interpretasi atas bagaimana orang lain memandangnya. 

Konsekuensinya, pemahaman mengenai liking gap bukan hanya penting dalam kajian akademis, tetapi juga dalam pengembangan strategi intervensi praktis di lingkungan pendidikan dan konseling remaja. Guru, konselor, dan orang tua perlu menyadari bahwa remaja mungkin tidak selalu percaya bahwa mereka disukai, bahkan saat mendapatkan perlakuan positif. (Burns, 1993)Oleh karena itu, penting untuk menyampaikan apresiasi dan dukungan secara eksplisit agar sinyal sosial tersebut dapat dikenali dan diinternalisasi. Sebagai penutup, liking gap tidak hanya menandai kesenjangan persepsi dalam interaksi sosial, tetapi juga menjadi penghalang dalam pembentukan konsep diri yang sehat. Remaja yang terjebak dalam asumsi bahwa dirinya tidak disukai akan cenderung membangun identitas sosial berdasarkan distorsi, bukan realitas. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang bersifat suportif, reflektif, dan validatif guna membantu remaja membangun citra diri yang akurat dan sehat. Dalam konteks perkembangan psikososial, mempersempit liking gap berarti membuka ruang bagi remaja untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, terhubung, dan resilien secara sosial.(Boothby  G.; Sandstrom, G. M.; Clark, M. S., 2018)

Peran Mediasi: Persepsi Interpersonal

Dalam dinamika psikososial remaja, pembentukan konsep diri tidak semata bergantung pada pengalaman personal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh persepsi sosial yang dibentuk dari interaksi dengan lingkungan sebaya. Salah satu fenomena yang kerap terjadi dalam proses ini adalah liking gap, yaitu kecenderungan individu meremehkan seberapa besar dirinya disukai oleh orang lain setelah berinteraksi (Buntaran  A. F., 2015). Liking gap menciptakan bias persepsi yang berpotensi menghambat pembentukan identitas positif. Namun, sebelum liking gap berimbas langsung pada konsep diri, terdapat suatu proses kognitif-emosional penting yang berperan sebagai mediasi, yaitu persepsi remaja terhadap sikap teman sebaya.

Persepsi terhadap sikap teman mencerminkan bagaimana remaja menginterpretasikan berbagai sinyal sosial baik verbal maupun non-verbal yang diberikan oleh lingkungannya. Penelitian Amanida dan Indriana (2017) menunjukkan bahwa persepsi terhadap komunikasi interpersonal, khususnya dalam konteks keluarga, sangat memengaruhi penyesuaian diri remaja. Konsep ini dapat diperluas dalam relasi sebaya, di mana remaja membentuk pemahaman mengenai penerimaan sosial dari cara mereka menafsirkan interaksi dengan teman-temannya. Ketika persepsi ini akurat dan positif, ia berperan sebagai penguat konsep diri. Namun, jika bias negatif mendominasi, meskipun teman sebenarnya menerima dan menghargai mereka, remaja justru mengembangkan citra diri yang rendah dan menyimpang dari kenyataan (Amanida  I. W., 2017). 

Penelitian Buntaran & Helmi (2015) tentang kepercayaan interpersonal dalam jejaring sosial online menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi faktor utama dalam memediasi pengalaman kesepian dan pengungkapan diri. Dalam konteks remaja, persepsi terhadap teman sebaya juga terbentuk dari akumulasi pengalaman, baik dalam interaksi langsung maupun digital. Persepsi yang didasari kepercayaan cenderung menghasilkan kesimpulan sosial yang lebih positif, sedangkan persepsi yang dibentuk dalam situasi keterasingan atau kecemasan sosial akan lebih mudah terdistorsi oleh liking gap. Ketika remaja merasa bahwa sikap teman mereka dingin, tidak peduli, atau tidak tulus meskipun mungkin hanya kesalahpahaman atau interpretasi yang keliru perasaan tidak disukai akan muncul dan memperkuat liking gap. Persepsi ini lalu berdampak pada aspek harga diri (self-esteem), yang merupakan komponen utama dari konsep diri. Persepsi negatif terhadap penerimaan sosial cenderung memunculkan keyakinan bahwa diri tidak layak diterima atau dihargai, yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan self-concept yang rapuh (Buntaran  A. F., 2015). Dalam beberapa kasus ekstrem, hal ini dapat mengarah pada penghindaran sosial, isolasi, bahkan depresi. Namun, hubungan antara liking gap dan konsep diri bukanlah hubungan linier yang tanpa perantara. Justru dalam titik inilah persepsi terhadap teman menjadi variabel mediasi yang menentukan. Apabila remaja mampu mengembangkan persepsi sosial yang lebih realistis dan terbuka, maka bias negatif dari liking gap dapat diminimalisasi. Oleh karena itu, membentuk persepsi sosial yang sehat menjadi prioritas penting dalam intervensi psikososial remaja.

Di sinilah letak pentingnya peran guru dan konselor sebagai fasilitator dalam proses pembentukan persepsi sosial yang sehat. Sekolah sebagai ruang sosial kedua setelah keluarga memegang peranan vital dalam mendampingi proses identifikasi dan validasi sosial remaja. Guru yang peka terhadap dinamika sosial di dalam kelas dapat menciptakan atmosfer yang inklusif dan suportif, sehingga remaja merasa diterima dan dihargai. Lebih jauh lagi, guru dapat memberikan modeling perilaku sosial yang terbuka dan empatik, yang akan ditiru oleh siswa dalam menjalin relasi sebaya. Konselor sekolah juga memiliki posisi strategis dalam mengintervensi persepsi sosial remaja melalui program bimbingan kelompok, refleksi diri, dan pelatihan keterampilan sosial. Melalui pendekatan ini, remaja diberi ruang untuk mengeksplorasi persepsi mereka sendiri terhadap hubungan sosial, membedakan antara fakta dan asumsi, serta belajar menilai diri dan orang lain secara lebih objektif. Program seperti pelatihan komunikasi asertif dan pengenalan terhadap bias sosial terbukti membantu remaja menyesuaikan interpretasi sosial mereka dengan lebih akurat.

Selain itu, konselor dapat menjadi penghubung antara remaja dan pihak-pihak yang dapat memperkuat jejaring dukungan sosial, seperti kelompok sebaya, mentor, atau komunitas positif. Membangun kepercayaan interpersonal yang sehat dan memberikan ruang bagi pengungkapan diri dalam lingkungan yang aman adalah langkah awal yang penting untuk membentuk persepsi sosial yang lebih seimbang. Dalam budaya kolektif seperti Indonesia, peran relasi sosial sangat menentukan arah pembentukan identitas remaja. Ketika seorang remaja merasa dirinya adalah bagian dari kelompok, rasa memiliki dan diterima memperkuat struktur konsep diri yang positif. Maka dari itu, membenahi persepsi remaja terhadap teman-temannya bukan hanya tugas psikologis, melainkan tugas sosial-kultural. Lingkungan sekolah dan keluarga harus bersinergi untuk menciptakan sistem komunikasi yang suportif dan tidak menghakimi.

Secara keseluruhan, persepsi remaja terhadap sikap teman memiliki peran yang sangat penting sebagai jembatan antara liking gap dan konsep diri. Intervensi terhadap persepsi ini tidak cukup hanya melalui pernyataan positif dari teman sebaya, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif dari figur otoritatif seperti guru dan konselor dalam membimbing proses refleksi sosial remaja. Dengan membentuk persepsi yang sehat dan realistis, remaja akan lebih mampu menerima dan mengembangkan potensi dirinya, serta terhindar dari distorsi identitas yang bersumber dari ketidaksesuaian antara kenyataan sosial dan interpretasi pribadi.

Kesimpulan

Liking gap merupakan fenomena psikososial yang sangat relevan dalam dinamika perkembangan remaja, di mana individu secara sistematis meremehkan tingkat penerimaan sosial yang sebenarnya mereka terima dari lingkungan sebayanya. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan cara remaja membentuk dan memahami persepsi interpersonal, yang pada akhirnya berpengaruh signifikan terhadap pembentukan konsep diri. Ketika remaja mengalami bias dalam menafsirkan sikap teman merasa tidak disukai padahal sebenarnya diterima hal ini akan mengganggu stabilitas harga diri, menghambat ekspresi diri dalam hubungan sosial, dan membentuk identitas sosial yang tidak sehat. Persepsi negatif tersebut memperkuat isolasi, menurunkan partisipasi sosial, dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan gangguan psikologis yang serius.

Namun demikian, persepsi remaja terhadap sikap teman tidak hanya menjadi akibat, tetapi juga sekaligus menjadi mediator penting dalam memperkuat atau meredam dampak liking gap terhadap konsep diri. Ketika persepsi sosial remaja dibangun secara lebih realistis, terbuka, dan berdasarkan pengalaman aktual, mereka akan lebih mampu memfilter bias internal yang selama ini memperlemah penerimaan diri. Dalam konteks ini, kehadiran guru dan konselor menjadi sangat krusial. Guru sebagai agen sosialisasi dan model relasi interpersonal dapat membangun budaya sekolah yang suportif, terbuka, dan reflektif. Sementara itu, konselor berperan strategis dalam mengembangkan kemampuan remaja mengenali, memahami, dan merekonstruksi persepsi sosial mereka melalui program bimbingan, intervensi kelompok, dan pelatihan sosial-emosional. Dengan sinergi antara pendekatan individu dan sistem sosial yang mendukung, remaja akan memiliki ruang yang aman untuk memvalidasi dirinya, mengembangkan harga diri yang stabil, serta membentuk konsep diri yang sehat dan kontekstual dengan realitas sosial yang mereka hadapi.

DAFTAR PUSTAKA

Amanida I. W., R. .. Indriana. (2017). Persepsi      terhadap komunikasi interpersonal dan penyesuaian diri remaja. Jurnal Empati, 6(1), 154–159. Retrieved from https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/empathy/article/view/21938

Boothby G.; Sandstrom, G. M.; Clark, M. S., E. J. .. Cooney. (2018). The Liking Gap in Conversations: Do People Like Us More Than We Think? Psychological Science, 29(11), 1742–1756. Retrieved from https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0956797618783714

Buntaran A. F., H. S. .. Helmi. (2015). Pengaruh kepercayaan interpersonal terhadap keterbukaan diri dan kesepian pengguna jejaring sosial. Jurnal Psikologi, 42(1), 20–30. Retrieved from https://journal.ugm.ac.id/jpsi/article/view/6949

Buntaran, Firman Alamsyah Ario, & Helmi, Avin Fadilla. (2015). Peran Kepercayaan Interpersonal Remaja yang Kesepian dalam Memoderasi Pengungkapkan Diri pada Media Jejaring Sosial Online. Journal of Psychology, 1(2), 106–119.

Burns, R. B. (1993). The self-concept: Theory, measurement, development and behaviour. London: Longman.

Fauzan N.; Khairunnisa, A., I. A. .. Astuti. (2022). Hubungan konsep diri dengan hambatan interaksi sosial pada siswa. Jurnal Bimbingan Konseling, 5(2), 100–108. Retrieved from https://journal.iaincurup.ac.id/index.php/JBK/article/view/12603

Muhirshani, Nurul Badriyah, & Muryono, Sigit. (2024). Hubungan Tekanan Teman Sebaya (Peer Pressure) dengan Kepercayaan Diri (Self Confidence) Remaja. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7(7), 6934–6938. https://doi.org/10.54371/jiip.v7i7.4821

Ruaidah, Husna Nurul, & Zulhenzri. (2023). Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Psikososial Remaja. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, 2(2), 146–152. Retrieved from https://jpion.org./indek.php/jpi

Santoso, F. (2020). Kepercayaan diri dan partisipasi kerja kelompok siswa SMA. Jurnal Ilmu Pendidikan, 8(3), 98–105. Retrieved from https://jiip.stkipyapisdompu.ac.id/jiip/index.php/JIIP/article/view/4821

Suryani S., E. .. Wahyuni. (2021). Persepsi remaja terhadap penerimaan teman sebaya dan kaitannya dengan konsep diri. Jurnal Konseling Indonesia, 6(2), 145–152. Retrieved from https://jurnal.umk.ac.id/index.php/jki/article/view/3644

Wolf A.; Tomasello, M., W. .. Nafe. (2021). The development of the liking gap: Children 5 years and older think that partners evaluate them less positively than they actually do. Psychological Science, 32(4), 600–611. Retrieved from https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/09567976209807

54


  

Komentar